Coba anda klik kata "raskin" pada penelusuran Google.Anda akan temukan banyak tulisan, berita maupun artikel yang memuat tentang beras raskin yang pada umumnya memberikan kesan negatif, terutama tentang buruknya kualitas beras raskin, cara pendistribusiannya yang tidak tepat, pengelolaannya yang carut marut, penyelewengan (korupsi) oleh para (oknum) pengelolanya, sampai pada penilaian negatif terhadap kebijakan pemerintah tersebut yang dituding "tidak tepat".
Berikut saya copy sebuah tulisan seorang Praja IPDN Jatinangor yang sedang bertugas magang di sebuah desa dan bertugas membagikan beras raskin. (kompasiana) :
Dilema Beras Miskin Buat Si Miskin
REP | 28 July 2011 | 19:51
Inilah pengalaman pertama saya bekerja melayani masyarakat secara
langsung. Pengalaman ini saya alami tadi siang (Kamis, 28 Juli 2011)
ketika saya sedang menjalani kegiatan praktek lapangan di Kantor Desa
Cipondok, Kabupaten Kuningan. Sungguh pengalaman pertama ini memberikan
kesan begitu membekas di hati ini. Ketika itu saya mendapatkan “tugas
pembantuan” dari pak lurah (di sini pak lurah adalah sebutan bagi kepala
dusun) Cimanggu untuk mendata warga yang menerima beras miskin
(ternyata tidak hanya warga yang miskin ya, berasnya pun ikut-ikutan
miskin). Dengan menggunakan seragam lengkap IPDN saya duduk di depan
sebuah meja dengan memegang kertas daftar para penerima beras miskin dan
sebuah pulpen untuk men-check list warga yang telah menerima
raskin tersebut. Aduuh, ternyata saya salah kostum ni kayaknya,
banyak warga yang ragu-ragu mampir ke meja saya (mungkin mereka mengira
saya aparat penegak hukum kali ya?) . Makanya ketika ada warga
yang datang dengan raut muka bingung-bingung, saya harus cepat membaca
situasi dan menjelaskan bahwa saya adalah pegawai magang di sini, hehe..
Walaupun saya hanya bertugas membagikan beras miskin tapi saya harus
tetap super hati-hati agar beras benar-benar tersalurkan kepada yang
berhak menerimanya karena kata pak lurah berdasarkan pengalaman sebelum
nya jumlah uang yang seharusnya terkumpul tidak sesuai dengan jumlah
beras yang terjual.
inilah beras raskin
Banyak cerita yang lebih penting yang harus saya ungkap di sini kepada
anda semua. Cerita mengenai kondisi masyarakat marginal kita yang
menerima beras miskin dan cerita mengenai para penyelenggara kebijakan
beras miskin tersebut. Inilah laporan saya langsung untuk anda semua.
kondisi beras yang memprihatinkan
Di
sini ada hal yang sangat menarik bagi saya, hampir setiap warga yang
datang untuk membeli jatah raskinnya ke kantor desa selalu
menyelidiki setiap karung beras satu persatu. Awalnya saya bingung, kok
mereka mencongkel-congkel setiap karung beras tersebut ya. Setelah saya
tanya kepada salah seorang warga kenapa mereka melakukan hal itu,
ternyata jawaban mereka membuat saya terkejut, “semoga saja di antara
berkarung-karung beras ini masih ada beras yang agak layak”, itu kata
mereka. Saya hanya diam.
warga yang sedang berusaha memilih beras yang
agak mendingan mutunya.
Menurut
informasi yang saya terima dari pak lurah, ternyata warga di sini juga
tidak mendapatkan jatahnya sesuai dengan janji pemerintah, yaitu 15 kg
per kepala keluarga. Mereka hanya mendapatkan jatah setengahnya. Hal ini
karena jumlah raskin yang tersalurkan ke Desa Cipondok tidak sesuai
dengan jumlah warga miskinnya. Sebagai solusinya, dalam rapat desa
disepakatilah setiap kepala keluarga mendapatkan jatah 7,5 kg saja
dengan harga 13.500 rupiah. Apakah benar bobotnya 7,5 kg? Nggak
ternyata.
ternyata setelah ditimbang, bobotnya pun
tidak sesuai harapan
Ternyata
setelah ditimbang, secara keseluruhan berat beras dalam satu karung
kurang dari 15 kg, malah ada yang sampai kurang setengah kilo. Ya
begitulah nasib orang miskin di negeri ini, kayak tukang cat,
sudah jatuh tertimpa tangga trus cat nya tumpah di kapala lagi.
Malang nian, yang jelas mereka hanya bisa menerima, sudah
syukur dapat jatah, kan banyak juga warga lain yang tidak dapat, begitu
mungkin fikir mereka. Itulah rakyat kita yang penyabar, bisa memaklumkan
pemerintah, tapi pemerintah tidak pernah memaklumkan mereka.
Saya
pribadi menilai, bahwa program beras miskin yang digulirkan oleh
pemerintah saat ini adalah bentuk pengakuan dari betapa peliknya
permasalahan kemiskinan di negeri ini. Permasalahan yang hingga saat ini
masih belum menjadi fokus perhatian pemerintah karena mereka
masing-masing sibuk dengan kepentingannya. Apakah pemerintah masih bisa
berbangga telah memberikan subsidi dalam bentuk beras tak layak kepada
masyarakat miskin?. Apakah benar program ini layak untuk diteruskan,
ataukah ada solusi lain?
[Praja_Ilham @
Desa Cipondok]
Posting Komentar