Headlines News :
Home » » KAPAN UMMAT ISLAM BERSATU DAN DIHORMATI ?

KAPAN UMMAT ISLAM BERSATU DAN DIHORMATI ?

Written By joker.com on Jumat, 07 Oktober 2011 | 02.13

Ummat Islam saat ini dalam keadaan kurang menguntungkan. Gampang disulut, gampang dipengaruhi, bahkan gampang ditekan. Lihatlah bagaimana kondisi ummat Islam di Tmur Tengah, di Afrika, Asia Tenggara. Bahkan di negri kita. Pandangan ini diukur dari posisi politik, ekonomi dan juga budaya. Dimana-mana ummat Islam kehilangan pengaruh, kehilangan pamor yang mengakibatkan hilangnya posisi dan kekuatan. Padahal Allah menjanjikan kehormatan yang tinggi, "ya'lu wa la yu'la 'alaih". Apa yang salah sehingga kita tidak mendapatkan kehormatan tersebut. 
Ummat Islam dimanapun mestinya mawas diri (introspeksi) sehingga apa yang jadi penyebabnya dapat diketahui dan dapat diperbaiki.
Saya melihat beberapa hal di masyarakat muslim (di Indonesia) yang punya indikasi menjadi penyebab kedudukan ummat Islam tidak "ya'lu" ;

1. Tidak mau belajar tentang Islam dan menyepelekan ilmu lainnya.

Islam mengajarkan 3 azas. IMAN, ISLAM dan IKHSAN
Iman : Bertauhid yang benar, tidak dikotori oleh "syirik". Meyakini hal-hal yang ga'ib hanya berdasarkan keterangan (berita) dari Allah melalui Rasul-Nya.Berita-berita ga'ib yang datang dari selain Allah dan RosulNya, itu berita bohong dan menyesatkan.

Islam : Beribadah sesuai yang diperintahkan Allah. Tidak ditambah-tambah atau dikurangi. Hal ini sudah diberikan contoh yang amat jelas oleh Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya (Sunnah). Ibadah yang tidak sesuai dengan sunnah , itu sia-sia, dan menyebabkan martabat ummat Islam menjadi rendah.

Ikhsan : Berakhlaq baik, berperilaku baik, mentaati norma-norma. Tidak melanggar aturan-aturan. Aturan Allah (Qur'an), aturan Rosul (Sunnah) dan aturan-aturan yang telah disepakati (tentu yang tidak bertentangan dengan aturan Allah dan RasulNya).

Yang dimaksud dengan ilmu lainnya ialah ilmu-ilmu yang menyangkut bagaimana mengelola alam dengan kehidupannya di dunia. Karena manusia diberi tugas di dunia ini sebagai "khalifah" untuk memelihara, dan memanfaatkannya demi kesejahteraan bersama. Tentang penguasaan ilmu pengetahuan (sain) selama ini dikuasai oleh orang-orang diluar islam, padahal sejarah menyebutkan bahwa pada awal-awal penggalian dan penemuan ilmu pengetahuan justru ummat Islam menjadi pelopor-pelopor dan pionir-pionir.

Uraian diatas sangat simpel dan sederhana. Tapi memuat hal-hal yang prinsip. Dalam kenyataannya kita harus banyak belajar tentang itu lebih luas dan lebih jelas.

2. Ummat Islam senang membuat "firqoh" (kelompok/golongan)
Entah apa penyebabnya, padahal Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur'an : "Berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah, dan janganlah engkau bercerai berai".
Lihatlah, bagaimana ummat Islam Indonesia berpolitik. Berapa (puluh) partai politik yang mengatasnamakam islam, baik eksplisit maupun terselubung. Belum lagi kelompok politik yang, katanya, memperjuangkan Islam melalui partai politik sekuler. Tambah lagi , kelompok-kelompok massa Islam. Berapa puluh organisasi-organisasi Islam di negeri ini, yang satu sama lain saling klaim, merekalah yang benar-benar memperjuangkan Islam.Apakah tidak bisa,kita bersatu dalam politik, bersatu dalam sosial kemasyarakatan. Toh kita punya kesamaan diantara kita, yaitu Qur'an sebagai kitab pedoman , Nabi Muhammad SAW sebagai contoh, tauladan, Dua Kalimah Syahadat sebagai bukti baiat kita dengan Allah dan Rosulnya. Baitullah sebagai kiblat sholat kita ? Walaupun kita juga tahu, bahwa diantara kita banyak hal-berbeda. Tapi selama perbedaan itu tidak bertentangan dengan hal-hal yang pokok tentu tidak menjadikan haram.

3. Ummat Islam kurang meghargai hal-hal yang kecil-kecil
Islam mengajarkan syariat dari hal-hal yang besar-besar (pokok) sampai hal yang kecil-kecil. Dalam sebuah hadist dijelaskan bahwa tingkatan iman yang paling rendah adalah ketika seseorang tidak membiarkan adanya duri di jalanan (dikhawatirkan terinjak).Dalam ajaran Islam hal-hal yang kecil-kecil (dianggap spele), memiliki tempat yang sama mulianya. Contoh ; "Seseorang tidak dikatakan beriman apabila dia tidak menghormati tamunya." (Hadist). " Sseorang tidak dikatakan beriman apabila tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya" (Hadist). " Rasa malu sebagian dari pada iman"(hadist)."Ucapkan salam ketika bertemu sesama muslim"(hadits) dan banyak lagi contoh-contoh lain. Di masyarakat kita hal-hal seperti itu hampit terabaikan.
Saya sering memperhatikan ketika kita melaksanakan sholat berjamaah di mesjid.. Masih banyak jamaah (ma'mum) yang tidak melakukan takbirotul ihrom secara serempak. Padahal dia sudah berdiri untuk memulainya. Bukankah diperintahkan oleh Rosul ; "idza koolal imamu Allahu Akbar, fa kabir...". Kejadian lain yang cukup mengganggu, yaitu masih banyak ma'mum mendahului imam (ruku, bangun dari ruku, sujud , bangun dari sujud). Bukankan dalam hadist disebutkan bahwa perilaku seperti itu nanti di hari akhir diibaratkan kepalanya seperti kepala keledai ?
Hal-hal kecil tapi cukup menjadi indikator bahwa ummat ini jauh dari bersatu, yang kebersatuan itu dapat menjadi kekuatan, menjadi pamor, menjadi wibawa, menjadi kemuliaan, sehingga orang lain menoleh kepada kita dengan penuh kehormatan.

Tulisan ini jauh dari sempurna, bahkan terkesan asal-asalan. Ma'lum ditulis tergesa-gesa setelah pulang Jum'atan. Tapi paling tidak, itulah yang sedang bergejolak  di pikiran saya. Dan pembaca dipersilahkan berkomentar dan tentunya melengkapi tulisan ini menjadi tulisan yang baik dan layak dibaca.


Share this post :

Posting Komentar

 
Support : YPK | JKR | JKR
Copyright © 2010 okabe.com - All Rights Reserved
JOKER JOKER Published by JOKER
Proudly powered by POSTING